Selasa, 18 Maret 2008

KAJIAN MENGENAI LETUSAN GUNUNG MERAPI TAHUN 1006 MASEHI DAN PERPINDAHAN KERAJAAN MATARAM HINDU KUNO
Oleh : Haqqi Amrullah
(Mahasiswa Jurusan Geografi, FIS UNJ)


PENDAHULUAN
Latar Belakang Masalah
Indonesia merupakan negara yang terletak diantara tiga lempeng aktif dunia. Kerak bumi yang membentuk lempeng Hindia-Australia (India-Australian Plate) bergerak setiap tahunnya mengarah ke utara, sedangkan kerak bumi Pasifik bergerak dari arah timur ke arah barat. Kedua lempeng yang berbeda arah itu, membentur lempeng Eurasia yang stabil, sehingga membentuk benua Eropa dan Asia bagian tenggara. Lempeng-lempeng tersebut saling bertumbukan sehingga pada zona tumbukan tersebut menghasilkan pergesekan zona subduksi, juga menghasilkan patahan Trans-Current yang bergerak mendatar. Baik zona subduksi dan patahan, terjadi akumulasi energi dari dalam bumi. Akumulasi energi tersebut kemudian dilepaskan dalam bentuk gelombang tektonik berupa gempa bumi, dan lepasan energi panas dalam bentuk letusan gunung api (Adjat Sudrajat, 1993).
Indonesia juga dikenal sebagai negara dengan banyak kerajaan pengagas berdirinya negara (Kardiyat W., 2006). Ketika kebudayaan India mulai masuk dan berafiliasi dengan penduduk Indonesia pada masa itu, terjadi akulturasi dan perubahan drastis pada masyarakat Indonesia. Saat itulah Indonesia masuk pada zaman sejarah seiring dikenalnya tulisan oleh masyarakat Indonesia. Akulturasi kebudayaan India juga tidak berpengaruh pada tulisan saja, melainkan agama, budaya dan pengaruh organisasi politik. Pengaruh organisasi politik ini menyebabkan tumbuhnya kerajaan kerajaan di bumi nusantara sebagai pusat segala kegiatan politik dan kebudayaan.
Salah satu pengaruh India ke Jawa Tengah adalah berdirinya kerajaan Mataram. Masa prasejarah ditinggalkan oleh Jawa Tengah dan memasuki zaman sejarah. Dengan masuknya budaya India ke Jawa Tengah, menyebabkan munculnya Kerajaan Mataram Hindu Kuno. Hal itu dapat diketahui dari peninggalan-peninggalan sejarah berupa prasasti-prasasti, candi-candi maupun dalam babad dan kitab yang menceritakan kisah raja-raja terdahulu. Adanya Kerajaan Mataram Hindu Kuno diketahui dari prasasti Canggal didekat reruntuhan candi diatas Bukit Gendol atau Bukit Wukir - Ngluwar, Kabupaten Magelang, Propinsi Jawa Tengah.
Sejarah Keruntuhan Kerajaan Mataram Hindu Kuno, yang kemudian banyak dikaitkan oleh para ahli sejarah, dengan kejadian letusan maha dahsyat Gunung Merapi tahun 1006 Masehi berdasarkan pada pendapat Van Bemmellen. Namun, perkembangan ilmu pengetahuan yang kian maju membantah pendapat letusan dahsyat 1006 Masehi tersebut.
Teori Van Bemmellen (1949) tentang terbentuknya Gunung Merapi mengaitkan sejarah letusan Gunung Merapi dengan letusan maha dahsyat pada tahun 1006 Masehi yang disebut-sebut Van Libberton Hinloopen (1921) sebagai Mahapralaya namun, perkembangan ilmu pengetahuan yang modern memungkinkan terbantahnya teori tersebut. Didasarkan pada beberapa bukti dari hasil penelitian bidang geologi, geomorfologi, geologi statigrafi, geologi sedimentologi dan arkeologi menemukan bukti yang membantah teori letusan merapi 1006 Masehi sebagai penyebab perpindahan kerajaan Mataram Hindu Kuno sebelum muncul kerajaan Mataram Islam modern.
Bukti perpindahan Kerajaan Mataram Hindu Kuno yang mendukung adalah ditemukannya candi-candi pada masa Kerajaan Mataram Hindu Kuno yang terkubur oleh material lepas bahan gunung api. Sehingga para peneliti sebelumnya mengatakan bahwa telah tejadi letusan besar yang kemudian mengubur candi-candi tersebut. Apalagi didukung oleh teori Van Libertoon Hinloopen dan teori Van Bemmelen tentang Gunung Merapi dan kaitannya pada interpretasi kata ”Mahapralaya”.
Penemuan pendapat baru (Discovery) tentang perpindahan kerajaan Mataram Jawa tengah ke Jawa Timur merupakan hal yang penting dilakukan. Sebab, pendapat tersebut akan terus digunakan selama turun temurun. Bantahan kajian yang dilakukan baru sampai pada proses ekskavasi candi dan penelitian tentang vulkanologi Gunung Merapi. Sedangkan tentang sejarah peletusan Gunung Merapi masih sedikit literasi yang dapat ditemukan.
Atas dasar itulah maka penulis ingin mencoba mengkaji ulang teori Van Bammelen tentang letusan Gunung Merapi pada tahun 1006 Masehi dan pemahaman terhadap sejarah perpindahan Kerajaan Mataram Hindu kuno.

TINJAUAN PUSTAKA
Hakikat Letusan (Erupsi) Gunung Merapi 1006 M
Lava yang keluar dari terusan lubang kepundan akan menghasilkan letusan gunung api atau diatrema, dan menghasilkan tipe erupsi yang berbeda. (Kattili, 1963).
Letusan gunung sebenarnya terjadi akibat gaya yang berasal dari dalam bumi akibat terganggunya sistem kesetimbangan magma ( kesetimbangan Suhu, termodinamika dan hidrostatistika) dan sistem kesetimbangan Geologi (kesetimbangan gaya tarik bumi, kimia-fisika dan panas bumi). Dan letusan gunung api adalah suatu kenampakan gejala vulkanisma ke arah permukaan, atau suatu aspek kimiawi perpindahan tenaga ke arah permukaan, yang terkandung pada kandungan tenaga dalam dapur magma yang dipengaruhi oleh keluaran panas pada saat magma mendingin dan tekanan gas selama pembekuaannya. (Alzwar. Dkk. 1988).
Menurut Escher (1933 dan 1952) dalam buku pengantar dasar ilmu gunung api (Alzwar, Dkk., 1988), Karakteristik letusan terpengaruh oleh viskositas (kekentalan) lava, kandungan dan tekanan gas yang tidak stabil, dan kedalaman waduk magma. klasifikasi letusan pusat gunung api :
a. Tipe Hawaii, lava yang keluar sangat encer sehingga membantu perkembangan gunung api pada bagian danau lava (kepundan).
b. Tipe Stromboli, magmanya sangat cair, ke arah permukaan sering kali dijumpai letusan bersifat pendek.
c. Tipe Vulkano, tekanan gasnya rendah dan magmanya kurang begitu cair, sehingga mampu membuat pertumbuhan awan debu raksasa yang jauh dipentalkan dari lubang kawahnya.
d. Tipe Merapi, lavanya cair dan kental, dapur magma yang relatif dangkal dan tekanan gas yang rendah. Sehingga sifat letusan yang terjadi hanya berupa penghancuran sumbat lava pada bagian atas dan menyebabkan awan panas guguran.
e. Tipe Pelee, Viskositas lava yang hampir sama dengan Gunung Merapi, tetapi tekanan gasnya cukup tinggi. Letusan pada tipe Pelee ini bercirikan letusan ke arah mendatar.
f. Tipe Vincent, lavanya agak kental, dan bertekanan gas menengah. Pada kawah terdapat danau kawah, yang bila letusan terjadi akan dimuntahkan ke luar dengan membentuk lahar letusan.
g. Tipe Perret atau Plinian ini dicirikan dengan letusan yang sangat kuat, akibat depresi yang terjadi pada magmanya yang kental dan tekanan gas yang tinggi. Letusannya mampu menghancurkan dinding kaldera lama.
Beberapa tipe letusan gunung api menurut Hartman (1935) didasarkan pada isi atau kandungan gas dari magma. Empat kelas ini menjadi prototype dari gunung api tipe orogen normal dengan produk batuan beku alkali kapur menengah. Kelas A, tidak menyebabkan letusan utama, karena kandungan gas sedikit. Kelas B, krisis mengikuti suatu fase awal, wujud letusan lebih cukup banyak gas. Kelas C, letusan yang berbahaya, dikarenakan lebih mengandung banyak gas. Kelas D, lebih berbahaya dikarenakan kandungan magma kaya akan gas.
Letusan gunung api merupakan proses tidak stabilnya siklus dalam tubuh gunung api, kinerja energi dari dalam tubuh gunung api. Dimana terjadi proses pendesakkan magma akibat terkurungnya gas dalam magma pada tubuh gunung api. Gas dalam magma mencari celah untuk dapat keluar, sehingga dapat mengakibatkan pengaruh pada tingkat letusan.

Morfologi Gunung Merapi
Gunung Merapi merupakan salah satu gunung paling aktif didunia, tercatat sudah ratusan kali mengeluarkan materialnya baik berupa letusan kecil atau pun letusan besar. Gunung Merapi tumbuh di atas titik potong antara kelurusan vulkanik Ungaran – Telomoyo – Merbabu – Gunung Merapi dan antara kelurusan vulkanik Lawu – Gunung Merapi – Sumbing – Sindoro – Slamet. Van Bemmelen (1949) berpendapat bahwa Gunung Merapi terletak pada deretan suatu sesar atau jalur pecah (fracture Zone) yang membentang utara – selatan dan titik potong dengan satu sesar berarah barat – timur. (MT. Zen, dkk. 1983).

Gambar Peta Gunung Merapi di Yogyakarta

Erupsi yang diketahui dalam catatan sejarah terjadi pada tahun 1006 Masehi, dan mengakibatkan kota Magelang dan Yogyakarta tertimbun lapisan debu yang tebal. (Kattili, J. A. 1963). Gunung Merapi terdiri dari dua bagian, yakni tubuh Gunung Merapi Tua, dan diantaranya tumbuh Gunung Merapi muda. Gunung Merapi yang kini terlihat sebagai kerucut muda dari Yogyakarta adalah hasil dari generasi kedua. (MT. Zen, 2006).
Gunung Merapi pertama mencapai ketinggian 3300 mdpl. Tetapi tubuhnya longsor atau roboh dan melengser ke arah Lembah Progo ke barat daya membentuk Gunung Gendol (Bemmellen, 1949). Menurut MT. Zen (1983) Gunung api ini roboh oleh karena tektonik gaya berat dan mengakibatkan letusan besar pada tahun 1006 Masehi.
Keistimewaan Gunung Merapi terletak pada bentuk kawah yang tertutupnya tidak seperti gunung api lainnya (Tangkuban parahu, Ciremai, Slamet, dan lain lain). Puncaknya dicirikan oleh sumbat lava, baik yang masih utuh atau yang sudah longsor sebagiannya. Kegiatan vulkaniknya selalu ditandai dengan penghancuran kubah lava, dan dinding lava yang lama. Penghancuran ini selalu disertai dengan guguran awan panas dan menimbulkan Wedusgembel (nueesardente explosion vulcanien). Bila disertai dengan hujan, maka ladu atau endapan guguran awan panas atau Wedusgembel dapat menimbulkan lahar. (MT. Zen, dkk, 1980).
Gambar Peta topografi puncak Gunung Merapi

Sejak awal sejarah letusan Gunung Merapi sudah tercatat bahwa tipe letusannya adalah pertumbuhan kubah lava kemudian gugur dan menghasilkan awanpanas guguran yang dikenal dengan Tipe Merapi (Merapi Type). Kejadiannya adalah kubahlava yang tumbuh di puncak dalam suatu waktu karena posisinya tidak stabil atau terdesak oleh magma dari dalam dan runtuh yang diikuti oleh guguran lava pijar. Dalam volume besar akan berubah menjadi awanpanas guguran (rock avalance), atau penduduk sekitar Merapi mengenalnya dengan sebutan wedhus gembel, berupa campuran material berukuran debu hingga blok bersuhu tinggi (>700oC) dalam terjangan turbulensi meluncur dengan kecepatan tinggi (100 km/jam) ke dalam lembah. Puncak letusan umumnya berupa penghancuran kubah yang didahului dengan letusan eksplosif disertai awanpanas guguran akibat hancurnya kubah. Secara bertahap, akan terbentuk kubahlava yang baru.
Gambar 1 Peta Geologi Gunung Merapi Menurut Van Bammellen (Geology Of Indonesia : 1949)Hartman (1935) membuat simpulan tentang siklus letusan Gunung Merapi dalam 4 kronologi yaitu:
Kronologi 1. Diawali dengan satu letusan kecil sebagai ektrusi lava. Fase utama berupa pembentukan kubahlava hingga mencapai volume besar kemudian berhenti. Siklus ini berakhir dengan proses guguran lava pijar yang berasal dari kubah yang terkadang disertai dengan awanpanas kecil yang berlangsung hingga bulanan.
Kronologi 2. Kubahlava sudah sudah terbentuk sebelumnya di puncak. Fase utama berupa letusan bertipe vulkanian dan menghancurkan kubah yang ada dan menghasilkan awanpanas. Kronologi 2 ini berakhir dengan tumbuhnya kubah yang baru. Kubah yang baru tersebut menerobos tempat lain di puncak atau sekitar puncak atau tumbuh pada bekas kubah yang dilongsorkan sebelumnya.
Kronologi 3. Mirip dengan kronologi 2, yang membedakan adalah tidak terdapat kubah di puncak, tetapi kawah tersumbat. Akibatnya fase utama terjadi dengan letusan vulkanian disertai dengan awanpanas besar (tipe St. Vincent ?). Sebagai fase akhir akan terbentu kubah yang baru.
Kronologi 4. Diawali dengan letusan kecil dan berlanjut dengan terbentuknya sumbatlava sebagai fase utama yang diikuti dengan letusan vertikal yang besar disertai awanpanas dan asap letusan yang tinggi yang merupakan fase yang terakhir.

Hakikat Perpindahan Kerajaan Mataram Hindu Kuno
Kata ”Perpindahan” berasal dari satu suku kata Yaitu ’Pindah’ yang diberi imbuhan ’Per-an’. Didalam kamus Bahasa Indonesia kata ”Pindah” berarti ’gerakan beralih, beranjak dan sebagainya atau bertukar tempat’ (Desi Anwar, 2005) imbuhan ’Per-an’ berarti menyatakan sesuatu yang terjadi. Maka didapat pengertian kata ”Perpindahan” adalah suatu pekerjaan yang terjadi berupa gerakan beralih, beranjak atau bertukar tempat.
Perpindahan Kerajaan Mataram Hindu Kuno terjadi pada masa pemerintahan terakhir Mataram Hindu Kuno di Jawa Tengah yang dipimpin oleh Rakai Sumba Dyah Wawa (Nugroho, N. 1993).
Perpindahan kerajaan tidak dapat diartikan sebagai suatu pusat kebudayaan dan politik yang tunggal. Melainkan bisa dikatakan sebagai bagian-bagian yang terpisah dan masing-masing independen. Perpindahan juga dapat pula dikatakan sebagai suatu proses yang mengambil waktu yang diperlukan untuk menghimpun, menyatukan, atau melakukan rangkaian penaklukan, sehingga terbentuklah sebuah negara besar dari masa ke masa. (Edi Sedyawati, 2006). Maka kata ’Perpindahan’ bukanlah dikatakan sebagai kehancuran atau tenggelamnya suatu kerajaan.
Maka perpindahan tersebut sesuai dengan kosmogonis kerajaan kuno haruslah dibangun kerajaan yang baru. Kerajaan baru itu tetap bernama Mataram yang dipimpin oleh Pu Sindok atau Sri Issanatungga yang letaknya di Jawa Timur, sebagaimana berita dari prasasti Paradah tahun 856 çaka (943 M) dan Prasasti Añjukladang tahun 859 çaka (937 M) (Nugroho, N. 1993).

ANALISA DAN PEMBAHASAN
Letusan Gunung Merapi Tahun 1006 Masehi
Gunung Merapi yang terletak pada perpotongan antara dua sesar kelurusan vulkanik dalam, merupakan suatu depresi magma yang kemudian membentuk gunung api Gunung Merapi. Tubuh Gunung Merapi merupakan hasil peletusan tubuh Gunung Merapi tua dan pembentukkan tubuh Gunung Merapi muda.
Letusan Gunung Merapi merupakan proses terganggunya keseimbangan magma didalam tubuh Gunung Merapi. Letusan Gunung Merapi merupakan letusan yang unik dan mempunyai ciri yang berbeda dari gunung api manapun. Sehingga Escher (1933 dan 1952) dalam alzwar (1988) mengklasifikasikan tipe Gunung Merapi sebagai salah satu tipe peletusan gunung api yang berbeda menurutnya.
Secara mekanik letusan Gunung Merapi merupakan letusan terarah (MT. Zen, 2006) sebagai guguran awan panas atau Wedus Gembel (nueesardente explosion vulcanien) sehingga pada 1006 M dapat diduga peletusan Gunung Merapi yang terjadi merupakan wujud letusan yang hingga kini terjadi yaitu penghancuran kubah lava bukan bersifat plinian (explosive) sebagaimana keterangan Van Bemmelen (1949). Akan tetapi fakta Gunung Merapi pernah meletus secara explosif atau plinian diajukan oleh Escher (1933) dimana tingkat kandungan gas dalam magma Gunung Merapi yang tidak pernah stabil nilainya. Letusan Gunung Merapi dapat dikatakan bermekanisme guguran lava atau erupsi explosif Didasarkan pada beberapa hal diantaranya :
a. Tingkat kekentalan magma. Tingkat kekentalan magma Gunung Merapi berada pada tingkat cair atau encer sehingga tidak cukup kekuatan mampu untuk menghancurkan secara ledakan (Explosive/Plinian) dinding lava yang menjebaknya.
b. Bentuk Lubang Kepundan Gunung Merapi. Bentuk lubang kepundan adalah dampak negatif letusan gunung api. Lubang kepundan Gunung Merapi yang tertutup merupakan hasil peletusan dengan intensitas berupa guguran awan panas dan penghancuran kubah lava.
c. Kandungan gas dalam Magma. Kekuatan ledakan yang dihasilkan suatu letusan gunung api dihasilkan oleh tingkat kandungan gas dalam magma yang terjebak. Tingkat kandungan gas magma pada Gunung Merapi kadang beraneka ragam. Dapat diduga peletusan pada tahun 1006 Masehi pada saat itu kandungan gas dalam magma Gunung Merapi mempunyai tingkat yang cukup tinggi.
Fakta kemungkinan Gunung Merapi tidak pernah tergelincir dimana Gunung Merapi hancur karena serentetan peletusan terarah sejak dahulu. Dalam sejarah ilmu gunung api peletusan raksasa dapat menghasilkan kaldera, atau depresi Volkano-Tektonik yang hampir pasti disertai oleh produksi batuan pyroklastik Asam (Rhyolitik) seperti pada Danau Toba, yang menghasilkan Tufa toba dan sebagainya, termasuk ranau yang menghasilkan Tufa Ranau dan Pasumah. Maninjau yang menghasilkan endapan di sekitar Bukit Tinggi, semua disertai endapan Pyroklastik asam (SiO2 > 70 %) dalam volume sangat besar. Contohnya endapan Tufa Toba yang menutupi daerah seluas 20.000 – 30.000 Km³. Endapan Pyroklastik asam dalam jumlah yang sangat banyak sebagaimana disajikan pada fakta diatas tidak atau belum pernah diketemukan di Gunung Merapi atau pun daerah sekitar Jawa Tengah.
Studi stratigrafi yang dilakukan oleh Andreastuti (1999) dalam makalah yang dipublikasikan oleh Grapala telah menunjukkan bahwa beberapa letusan besar, dengan indeks letusan (Vulcano Explosion Index) sekitar 4, tipe Plinian, telah terjadi di masa lalu. Letusan besar terakhir dengan sebaran yang cukup luas menghasilkan Selokopo tephra yang terjadi sekitar sekitar 500 tahun yang lalu (490 + 100 yrs. B.P) (MN15 NB-1). Namun demikian, erupsi eksplosif dari G. Merapi yang teramati diperkirakan masih terjadi lagi pada sekitar 250 tahun yang menghasilkan Pasarbubar tephra. Meskipun demikian, letusannya relatif kecil dibandingkan letusan yang menghasilkan Selokopo tephra.
Berdasarkan pengamatan terhadap jenis endapan dan besar letusannya, letusan Gunung Merapi dari Andreastuti (1999) di masa lalu (3000 BP - 1800 AD) dapat dibedakan menjadi 3 kelompok, yaitu Kelompok 1; letusan kecil menghasilkan satu jenis endapan yang relatif tipis atau aliran lava. Kelompok 2; letusan medium menghasilkan endapan tephra yang menunjukkan asosiasi sederhana dari endapan yang ketebalannya relatif tipis. Kelompok 3; letusan besar yang menghasilkan endapan tebal dengan asosiasi jenis endapan yang komplek.

Morfologi Gunung Merapi dan Gunung Gendol
Bemmelen (1949) dan (1956) beranggapan bahwa antiklinorium Gunung Gendol (Bukit Gendol) di kaki barat Gunung Merapi dekat Muntilan merupakan hasil pelongsoran tubuh Gunung Merapi yang longsor secara pejal disertai dengan peletusan besar, yang kemudian terhenti menabrak kaki Pegunungan Progo, dan menghasilkan lipatan pada bagian tubuh Gunung Gendol. Mengenai tektonik gaya berat yang terjadi di Gunung Merapi ini, Van Bemmelen secara umum menulis :
Volcano-Tectonic collapse is also frequent, especially in Java, where the volcanoes are often situated on a soft foundation of unconsolidated Late Tertiary Sediments. The weight of these volcanoes exceeds several thousands of millions of tons, and it is not difficult to see that such come finally must collapse under their own weight. This causes tensional structures in the top area. Such as grabens and normal faults, and compresses, folds and over-thrusts the material near the foot.
Namun, ditinjau dari data penelitian terakhir mengenai masalah yang terkait, dihubungkan dengan keadaan Geologi dan data Statigrafisnya. Dapat diketahui bahwa morfologi Gunung Gendol tidak mempunyai struktur lipatan yang terlihat (MT. Zen, 2006). Secara tektonik dapat dikatakan Gunung Gendol di selatan Muntilan juga mengalami gerakan mengombak akibat tekanan berat bagian tubuh atas Gunung Gendol itu sendiri (MT. Zen, 1969). Berdasarkan analisis Petrografis dan ciri Litologinya Gunung Gendol dimasukkan ke dalam kompleks Pegunungan Menoreh dan bukan Gunung Merapi. Kajian data Statigrafis menunjukkan material gunung yang volumenya sangat besar, sebagai akibat pelongsoran Gunung Merapi sampai kini tidak dijumpai aktivitasnya selama ini. (Sri Mulyaningsih. 2006).

Terkuburnya Candi dan Perpindahan Kerajaan Mataram Hindu Kuno
Fakta terkuburnya candi yang menjadi faktor utama pendugaan penyebab perpindahan Kerajaan Mataram Hindu Kuno, merupakan kunci yang tepat untuk dapat menjawab semua permasalahan seputar Kerajaan Mataram Hindu Kuno tersebut. Beberapa acuan penelitian pada ekskavasi dan analisa tata letak candi yang telah dilakukan oleh para peneliti. Menunjuk beberapa candi yang tersingkap disisi selatan terkubur material gunung api pada abad ke - 6 (1440 tahun yang lalu), abad ke 8 - 9 (1175 tahun yang lalu) dan abad ke 10 (1070 – 1060 tahun yang lalu), serta kebanyakan candi terkubur oleh material gunung api pada abad ke 13 (740 – 640 tahun yang lalu). Sedangkan sejarah letusan terdekat Pralaya 1006 adalah material yang ditemukan berumur 940 – 990 Masehi (1070 – 1060 tahun yang lalu), di sisi selatan dan pada abad ke 11-12 (980 tahun yang lalu) disisi barat laut. (Sri Mulyaningsih, 2006).
Candi Wukir yang ditemukan di atas Bukit Wukir atau Gunung Gendol di kabupaten Magelang, Jawa Tengah, memberikan fakta tentang Letusan Gunung Merapi tahun 1006 Masehi. Pada candi ini ditemukan prasasti Canggal yang diperkirakan didirikan pada tahun 732 Masehi. Prasasti canggal ditulis dalam bahasa Sansekerta berhuruf Pallawa yang isinya menyebutkan tentang pendirian sebuah Lingga yang kaya akan padi dan emas. Gunung Gendol pada awalnya diyakini terbentuk oleh longfsoran material vulkanik Gunung Merapi, sebagai akibat letusan kuat tahun 1006 Masehi. Dengan ditemukannya Prasasti canggal di atas Gunung Gendol yang tertanggal 732 Masehi ini, menunjukkan bahwa Gunung Gendol telah terbentuk sebelum letusan tersebut.
Dari hasil peneltian yang dilakukan oleh Sri Mulyaningsih (2006) didapat data hasil analisa statigrafi dibeberapa endapan lapisan yang mengubur candi di sekitar Yogyakarta. Hasil pentarikhan dengan metode Karbon C-14 menunjukkan terdapat beberapa candi yang berumur lebih tua, dibangun sekitar abad ke I – IV, dan candi yang muda pada abad ke X – XIII, candi-candi tua tersebut diantaranya adalah Candi Geblok, Candi Kadisoko, Candi Gayamsari, Candi Mancasan, Candi Wadas, Candi Gebang, Candi Sambisari, Candi Morangan, dan Candi Kedulan. Candi-candi tersebut tertimbun oleh enam sekuen perlapisan endapan gunung api dari delapan sekuen selama periode letusan 2500 tahun terakhir. Perlapisan endapan gunung api tersebut dibatasi paleosol yang terdiri dari lahar atau awan panas. Dari pentarikhan dengan metode Karbon C-14 itu didapat data yang diurut umur lapisan dari yang lebih tua ke yang lebih muda berumur :


Terdapatnya variasi umur endapan menunjukkan bahwa bangunan tersebut dibangun pada waktu yang berbeda, antara tahun 92 Hingga 1250 Masehi. Namun, hal ini harus didukung dengan ilmu Paleogeomorfologi-nya apakah candi tersebut mengalami peninggian.
Sri mulyaningsih dalam penelitiannya juga menyebutkan gunung Merapi pernah meletus dengan hebat atau menunjukkan intensitas letusan yang cukup besar dan mampu mengubur candi-candi disekitar Gunung Merapi, sejak abad ke 6 hingga abad ke 16 Masehi. Dalam prasasti Sanguran yang berangka tahun 851 çaka (928 Masehi); disebutkan bahwa pusat Kerajaan Mataram Hindu Kuno pindah ke Jawa Timur akibat Pralaya. Namun, dari isi prasasti disebutkan Kerajaan Mataram Hindu Kuno mengalami perpindahan pada tahun 928 Masehi dan bukan tahun 1006 Masehi.
Menurut Jan Wiesman Christie (dalam makalah penelitian Sri Mulyaningsih) (2005), dari data hasil penelitian ekskavasi Candi Borobudur pada tahun 1974, diketahui terdapat desa di sebelah barat daya candi, yang tertutup oleh perlapisan utama endapan gunung api setebal 0,5 m. Mengandung peninggalan keramik Cina dari dinasti Tang hingga awal zaman dinasti Han, abad ke IX hingga ke awal abad X. Dijumpai pula tiga endapan pelapisan tipis abu gunung api yang sama dengan perlapisan yang menutupi bagian candi Plaosan. Dari data tersebut Christie berpendapat bahwa telah terjadi aktivitas peningkatan vulkanis Merapi. Hal tersebut didukung oleh hasil penelitian Sri Mulyaningsih, yang mendapatkan material letusan berupa endapan awan panas dan lahar berumur 882 Masehi, 940 – 990 Masehi dan 1252 – 1311 Masehi. Candi - candi yang terkubur oleh beberapa sekuen endapan gunung api dengan jarak atau waktu pengendapan yang cukup lama, dimana lapisan endapan tersebut dibatasi oleh pembentukkan lapisan tanah yang memisahkannya. Secara Arkeologis, didasarkan pada pembacaan prasasti Pucangan (Batu Calcuta) oleh Casparis (1956), Sukmono (?) menyitirnya bahwa Pralaya yang terjadi bukan pada tahun 1006 Masehi melainkan 1016 – 1017 Masehi. Jadi jelas Pralaya yang terjadi pada masa pendahulu Erlangga terjadi pada tahun 1016 – 1017 Masehi, dan perpindahan Kerajaan Mataram Hindu Kuno telah terjadi pada sebelumnya, sehingga Pralaya bukan akibat letusan gunung api.
Sekali lagi, mengenai ”Pralaya” atau ”Mahapralaya” yang artinya ”Kehancuran” atau ”kehancuran besar” perlu dilakukan kajian tafsiran pada informasi yang sejaman (Edi Sedyowati, 2006). Istilah itu sendiri disebutkan dalam prasasti Pucangan (batu Calcuta) pada sisinya yang berbahasa Jawa kuno, disebut bahwa Pralaya disebabkan oleh ”Serangan raja wurawari yang menyerang muncul dari Lwaram” kutipan yang berbunyi :
”.....Kalaning Pralaya ring yawadwipa i rikang 939 ri Pralaya haji wurawari masõ mijil sangke lwaram, ekarnawa rupanikang sayadwipa rikang kala, akweh sira wwang mahãwiśeŝa pjah...”
Angka tahun 939 sebagaimana disebut dalam kutipan prasasti tersebut padanan tahunnya adalah 1017 Masehi. Peristiwa serangan Haji Wura Wari dari Lwaram tersebut terjadi pada tahun 939 çaka/1017 Masehi bukan yang selama ini banyak didskusikan terkait kejadian pada 1006 Masehi atau 1016 Masehi. (Edi Sedyowati, 2006).
Perpindahan Kerajaan Mataram Hindu Kuno merupakan hal yang biasa terjadi sesuai kosmogonis kerajaan-kerajaan di Jawa kuno dengan konsep tumbuh, kemudian hilang dan terjadi masa akumulasi perkembangan atau masa kejayaan. Interpretasi Pralaya perlu ditinjau lagi mengingat kejadian Pralaya bukan disebabkan oleh letusan gunung Merapi melainkan perbuatan manusia.
Secara logika, peristiwa gunung meletus dengan aliran lahar yang cukup deras, tidak sampai membunuh para pejabat dan raja pada masa itu. Tetapi yang terjadi di Kerajaan Mataram adalah sebaliknya. Maka biasanya rumah atau tempat tinggal pejabat atau pun raja memiliki letak yang cukup strategis sesuai kosmogonis Jawa contohnya pada pendirian Keraton Yogyakarta Mangkualaman yang letaknya strategis.

PENUTUP
Kesimpulan
Berdasarkan uraian pembahasan masalah diatas didapat beberapa kesimpulan yang menarik yaitu Letusan Gunung Merapi adalah letusan tipe yang unik, dan jarang dijumpai pada gunung api lainnya, sehingga Escher (1933 dan 1952) memasukkan letusan Gunung Merapi sebagai tipe tersendiri yaitu Tipe Merapi. Letusan Merapi dimungkinkan terjadi bersifat Plinian atau explosive, didasarkan pada dua hal ; a). Walaupun dapur magma Gunung Merapi dangkal namun, bila tekanan gas yang dikandung magma cukup tinggi dapat mengakibatkan letusan gunung api menjadi meningkat. Diduga pada tahun 1006 Masehi tekanan kandungan gas dalam magma mempunyai nilai yang tinggi. b). Dari studi analisa Statigrafi pada saat Ekskavasi disebelah barat candi Borobudur, ditemukan tiga lapisan endapan gunung api yang dibatasi Paleosol, hal ini dapat menunjukkan bahwa aktivitas vulkanis Gunung Merapi meningkat pada saat itu.
Berdasarkan pada interpretasi pembacaan prasasti, kejadian Pralaya adalah akibat serangan Haji Wura Wari dari Lwaram, dan bukan merupakan bencana letusan Gunung Merapi. Kajian tentang pelengseran tubuh bagian atas Merapi membentuk Gunung Gendol tidak terbukti, hal ini didasarkan pada ; a). Kajian statigrafi, Litologi, Petrografis, dan Geomorfologinya yang berbeda dengan Gunung Merapi. b). ditemukannya prasasti Canggal diatas bukit Gendol yang tertanggal 732 Masehi, menunjukkan bahawa Bukit Gendol telah terbentuk sebelum letusan tersebut.
DAFTAR PUSTAKA
Sudrajat, Adjat.,1993, ?
Wiharyanto, Kardiyat., 2006, Gunung Merapi dan Mataram,.
Bammellen, R. W. van, 1949, The Geology Of Indonesia,Vol. IA,.
-----------, 1952, Mountain Building, Govt..
Katili, J. A., and P. Marks, 1963, Geologi.
Alzwar, Muzil. dkk., 1988, Pengantar Dasar Ilmu Gunung Api, .
Zen, M. T., 1983,
Zen, M. T., 1960,
Hartman, 1935,
Anwar, Desi, 2005, Kamus Bahasa Indonesia,.
Nugroho, N., 1993,
Escher, E. G., 1933, On Clasifications of Central Eruptions According To Gas Pressure of The Magma and Viscocity of The Lavas,.
Sedyowaty, Edy., 2006, Gunung dan Maknanya di Masa Jawa Kuna,.
Andreastuti, 1996, pada 12 Desember 2007 pukul 15.30 WIB.
Mulyaningsih, Sri., 2006. ?
Sukmono ?

Tidak ada komentar: